Lantas apa yang kau tunggu?
Kumbang-kumbang itu baru saja pergi
Ini jejaknya
Kau terlambat, hei
Kami tadi bercengkrama tentang kau
Puas mulut menertawakan mu
Hingga kumbang kehabisan huruf untuk tertawa
Dan aku terlalu santai
Hei, apa yang kau tunggu
Apa yang kau cari?
Pergi lah, ada yang menunggu mu di ujung senja
Dia menanti tanpa waktu
Tak kau sapa dia?
Oh hei, betapa angkuhnya kau
Lihat dan dengar cerita ku
Kumbang pun tertawa lepas akan sikap mu...
Sabtu, 09 Agustus 2014
Jumat, 08 Agustus 2014
Gigil
Mari kita lanjutkan perjalanan sepi ini
Hujan tak lagi deras
Mengapa kau berpegang erat pada jemari ini?
Sedang aku menggigil tanpa tumpuan
Sama sekali tak memberi penawar akan dingin mu
Berjalan lah disampingku
Lihat
Betapa anggun dingin yang merayap disetiap jengkal tubuh kita
Kau membiru
Sedang aku terpejam menahan
Dingin
Hangat
Sekali ini aku yang berpegang erat akan lenganmu
Kau arahkan mataku ke selatan dan berkata "ada impian yang menjemput"
Ada lekukan manis dibibir
Seketika itu pula ada yang kembali
Gerimis menerpa
Angan tak pernah mampu terikut manut bersama aliran hujan dan angin...
Hujan tak lagi deras
Mengapa kau berpegang erat pada jemari ini?
Sedang aku menggigil tanpa tumpuan
Sama sekali tak memberi penawar akan dingin mu
Berjalan lah disampingku
Lihat
Betapa anggun dingin yang merayap disetiap jengkal tubuh kita
Kau membiru
Sedang aku terpejam menahan
Dingin
Hangat
Sekali ini aku yang berpegang erat akan lenganmu
Kau arahkan mataku ke selatan dan berkata "ada impian yang menjemput"
Ada lekukan manis dibibir
Seketika itu pula ada yang kembali
Gerimis menerpa
Angan tak pernah mampu terikut manut bersama aliran hujan dan angin...
Kamis, 07 Agustus 2014
Selamat malam, dingin..
Dingin, sepi
Hujan, angin
Seakan melegalkan ucapan "aku sangat rindu"
Dan setangkup harapan akan kata "baiklah, apa beda dengan ku"
Tetaplah
Yang aku rasa tak seperti biasa
Aku terlalu takut untuk menyentuh hujan
Takut akan rindu yang akan menjadi selimut nanti
Mencari kehangatan di setiap sela, antara rintik hujan dan sepi
Tak ada yang bisa ku kenang disini
Karena mungkin kau bukanlah bagian kenangan
Apa coba kuhitung saja berapa sekumpulan hujan yang singgah di kaca jendelaku?
Sedikit
Tak memiliki daya jika dibandingan jumlah kumpulan rindu yang aku tabung di ruang hidup hati ini...
Hujan, angin
Seakan melegalkan ucapan "aku sangat rindu"
Dan setangkup harapan akan kata "baiklah, apa beda dengan ku"
Tetaplah
Yang aku rasa tak seperti biasa
Aku terlalu takut untuk menyentuh hujan
Takut akan rindu yang akan menjadi selimut nanti
Mencari kehangatan di setiap sela, antara rintik hujan dan sepi
Tak ada yang bisa ku kenang disini
Karena mungkin kau bukanlah bagian kenangan
Apa coba kuhitung saja berapa sekumpulan hujan yang singgah di kaca jendelaku?
Sedikit
Tak memiliki daya jika dibandingan jumlah kumpulan rindu yang aku tabung di ruang hidup hati ini...
Rabu, 06 Agustus 2014
Selamat malam, hujan...
Selamat malam hujan
Sial, mengapa kau harus datang malam ini?
Kau tidak tahu, kehadiranmu semakin menambah lengkap pilu kerinduan ini
Pada
Pada dia
Iya, dia
Selamat malam hujan
Tunggu, seharusnya ini adalah waktu terbaik untuk mendoa untuk kesembuhan hatiku
Kalau kau kata dia tidak akan mengetahui
Itu artinya kau bodoh!
Selamat malam hujan
Sekali ini terasa hangat, sebentar
Lantas dingin berkepanjangan
Hingga membeku dan sulit mencair...
Sial, mengapa kau harus datang malam ini?
Kau tidak tahu, kehadiranmu semakin menambah lengkap pilu kerinduan ini
Pada
Pada dia
Iya, dia
Selamat malam hujan
Tunggu, seharusnya ini adalah waktu terbaik untuk mendoa untuk kesembuhan hatiku
Kalau kau kata dia tidak akan mengetahui
Itu artinya kau bodoh!
Selamat malam hujan
Sekali ini terasa hangat, sebentar
Lantas dingin berkepanjangan
Hingga membeku dan sulit mencair...
Kepada dingin
Merindumu sama saja seperti mencelupkan diri ke danau biru yang membeku disaat musim dingin
Aku yang tak pernah terlihat
Tapi cobalah kau jabarkan seperti apa bentuk angin, bisa?
Aku tidak pernah minta untuk kehadiranmu disini, tidak, sama sekali tidak
Sudah ku bilang, aku ini hanya ingin menjadi tulisan yang tidak diketahui siapa penanya..
Aku yang tak pernah terlihat
Tapi cobalah kau jabarkan seperti apa bentuk angin, bisa?
Aku tidak pernah minta untuk kehadiranmu disini, tidak, sama sekali tidak
Sudah ku bilang, aku ini hanya ingin menjadi tulisan yang tidak diketahui siapa penanya..
Selasa, 05 Agustus 2014
Surat pagi bersama kutilang
Selamat pagi, dia
Dipersimpangan jalan ini aku kembali hadir. tanpa puisi yang berarti
Aku masih meringkuk bersama bekas fajar berembun, tanpa dia
Daun? Dingin? tidak, semua hangat
Aku pernah memberi arti pada setiap sepi
Menjadikan dingin sebuah hangat
Menjadikan ramai sebuah sepi mendalam
Bahkan menjadikan silir menjadi gersang
Tapi ah itu terlalu indah
Tak perlu dia risaukan gersang yang aku maksud
Cukup gersang yang menjadikan aku akan paham apa artinya silir yang dulu aku rangkai
Kutilang, kau dengar aku?
Itulah dia
Kau paham lah, seperti yang kau bilang
Hanya kita yang rasa...
Dipersimpangan jalan ini aku kembali hadir. tanpa puisi yang berarti
Aku masih meringkuk bersama bekas fajar berembun, tanpa dia
Daun? Dingin? tidak, semua hangat
Aku pernah memberi arti pada setiap sepi
Menjadikan dingin sebuah hangat
Menjadikan ramai sebuah sepi mendalam
Bahkan menjadikan silir menjadi gersang
Tapi ah itu terlalu indah
Tak perlu dia risaukan gersang yang aku maksud
Cukup gersang yang menjadikan aku akan paham apa artinya silir yang dulu aku rangkai
Kutilang, kau dengar aku?
Itulah dia
Kau paham lah, seperti yang kau bilang
Hanya kita yang rasa...
Langganan:
Postingan (Atom)

