Mari kita lanjutkan perjalanan sepi ini
Hujan tak lagi deras
Mengapa kau berpegang erat pada jemari ini?
Sedang aku menggigil tanpa tumpuan
Sama sekali tak memberi penawar akan dingin mu
Berjalan lah disampingku
Lihat
Betapa anggun dingin yang merayap disetiap jengkal tubuh kita
Kau membiru
Sedang aku terpejam menahan
Dingin
Hangat
Sekali ini aku yang berpegang erat akan lenganmu
Kau arahkan mataku ke selatan dan berkata "ada impian yang menjemput"
Ada lekukan manis dibibir
Seketika itu pula ada yang kembali
Gerimis menerpa
Angan tak pernah mampu terikut manut bersama aliran hujan dan angin...
Jumat, 08 Agustus 2014
Kamis, 07 Agustus 2014
Selamat malam, dingin..
Dingin, sepi
Hujan, angin
Seakan melegalkan ucapan "aku sangat rindu"
Dan setangkup harapan akan kata "baiklah, apa beda dengan ku"
Tetaplah
Yang aku rasa tak seperti biasa
Aku terlalu takut untuk menyentuh hujan
Takut akan rindu yang akan menjadi selimut nanti
Mencari kehangatan di setiap sela, antara rintik hujan dan sepi
Tak ada yang bisa ku kenang disini
Karena mungkin kau bukanlah bagian kenangan
Apa coba kuhitung saja berapa sekumpulan hujan yang singgah di kaca jendelaku?
Sedikit
Tak memiliki daya jika dibandingan jumlah kumpulan rindu yang aku tabung di ruang hidup hati ini...
Hujan, angin
Seakan melegalkan ucapan "aku sangat rindu"
Dan setangkup harapan akan kata "baiklah, apa beda dengan ku"
Tetaplah
Yang aku rasa tak seperti biasa
Aku terlalu takut untuk menyentuh hujan
Takut akan rindu yang akan menjadi selimut nanti
Mencari kehangatan di setiap sela, antara rintik hujan dan sepi
Tak ada yang bisa ku kenang disini
Karena mungkin kau bukanlah bagian kenangan
Apa coba kuhitung saja berapa sekumpulan hujan yang singgah di kaca jendelaku?
Sedikit
Tak memiliki daya jika dibandingan jumlah kumpulan rindu yang aku tabung di ruang hidup hati ini...
Rabu, 06 Agustus 2014
Selamat malam, hujan...
Selamat malam hujan
Sial, mengapa kau harus datang malam ini?
Kau tidak tahu, kehadiranmu semakin menambah lengkap pilu kerinduan ini
Pada
Pada dia
Iya, dia
Selamat malam hujan
Tunggu, seharusnya ini adalah waktu terbaik untuk mendoa untuk kesembuhan hatiku
Kalau kau kata dia tidak akan mengetahui
Itu artinya kau bodoh!
Selamat malam hujan
Sekali ini terasa hangat, sebentar
Lantas dingin berkepanjangan
Hingga membeku dan sulit mencair...
Sial, mengapa kau harus datang malam ini?
Kau tidak tahu, kehadiranmu semakin menambah lengkap pilu kerinduan ini
Pada
Pada dia
Iya, dia
Selamat malam hujan
Tunggu, seharusnya ini adalah waktu terbaik untuk mendoa untuk kesembuhan hatiku
Kalau kau kata dia tidak akan mengetahui
Itu artinya kau bodoh!
Selamat malam hujan
Sekali ini terasa hangat, sebentar
Lantas dingin berkepanjangan
Hingga membeku dan sulit mencair...
Kepada dingin
Merindumu sama saja seperti mencelupkan diri ke danau biru yang membeku disaat musim dingin
Aku yang tak pernah terlihat
Tapi cobalah kau jabarkan seperti apa bentuk angin, bisa?
Aku tidak pernah minta untuk kehadiranmu disini, tidak, sama sekali tidak
Sudah ku bilang, aku ini hanya ingin menjadi tulisan yang tidak diketahui siapa penanya..
Aku yang tak pernah terlihat
Tapi cobalah kau jabarkan seperti apa bentuk angin, bisa?
Aku tidak pernah minta untuk kehadiranmu disini, tidak, sama sekali tidak
Sudah ku bilang, aku ini hanya ingin menjadi tulisan yang tidak diketahui siapa penanya..
Selasa, 05 Agustus 2014
Surat pagi bersama kutilang
Selamat pagi, dia
Dipersimpangan jalan ini aku kembali hadir. tanpa puisi yang berarti
Aku masih meringkuk bersama bekas fajar berembun, tanpa dia
Daun? Dingin? tidak, semua hangat
Aku pernah memberi arti pada setiap sepi
Menjadikan dingin sebuah hangat
Menjadikan ramai sebuah sepi mendalam
Bahkan menjadikan silir menjadi gersang
Tapi ah itu terlalu indah
Tak perlu dia risaukan gersang yang aku maksud
Cukup gersang yang menjadikan aku akan paham apa artinya silir yang dulu aku rangkai
Kutilang, kau dengar aku?
Itulah dia
Kau paham lah, seperti yang kau bilang
Hanya kita yang rasa...
Dipersimpangan jalan ini aku kembali hadir. tanpa puisi yang berarti
Aku masih meringkuk bersama bekas fajar berembun, tanpa dia
Daun? Dingin? tidak, semua hangat
Aku pernah memberi arti pada setiap sepi
Menjadikan dingin sebuah hangat
Menjadikan ramai sebuah sepi mendalam
Bahkan menjadikan silir menjadi gersang
Tapi ah itu terlalu indah
Tak perlu dia risaukan gersang yang aku maksud
Cukup gersang yang menjadikan aku akan paham apa artinya silir yang dulu aku rangkai
Kutilang, kau dengar aku?
Itulah dia
Kau paham lah, seperti yang kau bilang
Hanya kita yang rasa...
Senin, 05 Mei 2014
Jendela
I
Senja memang selalu menyelipkan sebuah cerita
ketika dulu pasti tercipta senyuman
diantara sela nyanyian camar
dan sesautan jangkrik yang menjadi saksi
II
Kita pernah benar menyatu
diantara Pulau...
diantara Danau...
Kita pernah benar merasa hampa
bintang menjadi saksi
Doa malam menjadi jembatan
III
Memang akan selalu indah, apapun itu akhirnya
ketika sebuah sajak indah itu tercipta
ketika itu juga kita saling mengharap
Berkali kuberkata dalam sepi; tetapkan aku menjadi rahasiamu
aku sangat ingin denganmu
disaat embun...
disaat fajar...
IV
Kepadamu,
kita dapat menyimpulkan sendiri apa isi dari celah yang kita sisihkan
Kepadamu,
kalau kau rasa itu, aku jugalah sama
Bukankah kita pernh berjanji untuk melihat bulan yang sama di malam pekat?
aku tersenyum, sembari berharap kau akan baik disana
denganmu aku tak tahu
Terkadang berharap kau mengatakan
tapi secepat harapan itu pulalah aku berfikir apa mungkin
bahkan aku pernah dalam merindukanmu
denganmu aku tak tahu
Nb; kenapa title nya jendela? ya karena memang aku menuliskannya tepat di meja yang berhadapan dengan jendela. Dan mungkin lebih detailnya lagi di Laboratorium Farmasi Fisik. Sembari menunggu group lain belum selesai, tidak salah kalau sedikit bercumbu dengan senja. Dan sajak diatas tidak saling berhubungan..
Farmasi USU, 5 Mei 2014
Senja memang selalu menyelipkan sebuah cerita
ketika dulu pasti tercipta senyuman
diantara sela nyanyian camar
dan sesautan jangkrik yang menjadi saksi
II
Kita pernah benar menyatu
diantara Pulau...
diantara Danau...
Kita pernah benar merasa hampa
bintang menjadi saksi
Doa malam menjadi jembatan
III
Memang akan selalu indah, apapun itu akhirnya
ketika sebuah sajak indah itu tercipta
ketika itu juga kita saling mengharap
Berkali kuberkata dalam sepi; tetapkan aku menjadi rahasiamu
aku sangat ingin denganmu
disaat embun...
disaat fajar...
IV
Kepadamu,
kita dapat menyimpulkan sendiri apa isi dari celah yang kita sisihkan
Kepadamu,
kalau kau rasa itu, aku jugalah sama
Bukankah kita pernh berjanji untuk melihat bulan yang sama di malam pekat?
aku tersenyum, sembari berharap kau akan baik disana
denganmu aku tak tahu
Terkadang berharap kau mengatakan
tapi secepat harapan itu pulalah aku berfikir apa mungkin
bahkan aku pernah dalam merindukanmu
denganmu aku tak tahu
Nb; kenapa title nya jendela? ya karena memang aku menuliskannya tepat di meja yang berhadapan dengan jendela. Dan mungkin lebih detailnya lagi di Laboratorium Farmasi Fisik. Sembari menunggu group lain belum selesai, tidak salah kalau sedikit bercumbu dengan senja. Dan sajak diatas tidak saling berhubungan..
Farmasi USU, 5 Mei 2014
Langganan:
Postingan (Atom)
