Senin, 13 Januari 2014

Resistensi

Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha maksimal dilanjut dengan berdoa.
Hasil akhir adalah rahasia Illahi.
Jika hasil dirasa kurang sepadan dengan usaha keras kita, maka bersabarlah.
Mungkin Tuhan senang mendengar rintihan doa kita yang syahdu disetiap sujud itu.
Yang penting kita sudah usaha dengan jujur, itulah kemampuan kita.
Ingat filosofi batu, ia pasti akan cekung juga kalau setiap harinya terteteskan air.
Jangan pernag menyeraj untuk berusaha.
Bersyukur akan semua akan menjadi kunci rasa semangat yang semoga tetap berkobar.

Ibaratkan rasa semangat itu bakteri dan kemalasan adalah antibiotiknya.
Semakin sering semangat itu diberi kemalasan maka semangat itu akan menjadi kebal terhadap bisikan malas atau dengan kata lain "RESISTENSI SEMANGAT TERHADAP SUATU KEMALASAN".
Si rasa semangat tidaklah mempan dibunuh dengan rasa malas hingga pada akhirnya tak ada lagi rasa malas yang mampu menggoda semangat untuk mati.
Kalau resistensi antibiotik sangat ditakutkan oleh semua orang, maka resistensi semangat sangat diinginkan untuk menjadi suatu hal yang permanen di diri..

Kamis, 09 Januari 2014

Seakan lama

Hampa.
Mungkin sekaranglah yang terasa.
Setelah beberapa bulan ini kita terasa tanpa celah.
Pagi, siang, malam. Bahkan seringnya aku tertidur sedang kau ku peluk.
Karna ingin ku mengenalmu lebih jauh.
Beberapa hari kedepan kita tak bersama.
Sudah rindu walau baru satu hari.
Walaupun ini sebenarnya juga nikmatNya yang harus aku terima, tapi rasa tak sabar untuk terus bersamamu kian menggebu.
Maafkan, mungkin aku dulu mengabaikanmu sampai akhirnya aku paham kau mukzijat yang Allah titipkan pada suri tauladan kami seluruh umat Islam.
Pedoman hidup yang harus dijaga dan amalkan.
Teman, semangatlah menuntaskan semua.
Pahala yang akan kita dapatkan itu akan menggantikan semua rasa capek kita.
Dan teruslah buru pahala itu, semoga kelak kita menjadi hamba yang bertaqwa, aamiin :')

Sabtu, 04 Januari 2014

soal dan absen

Tiba-tiba teringat sama kejadian yang sedikit memalukan di Aula pada saat ujian tengah semester lalu.
Karena tiap mata kuliah dosen yang memberi ilmu bukanlah hanya satu saja melainkan lebih dari 1 otomatis ujianpun harus menerima lembar soal sesuai jumlah dosen. Nah, kebetulan pada saat ujian itu mata kuliahnya di bimbing oleh 2 dosen.
dosen pertama sudah membagikan lembar soal, dan aku mulai mengerjakan tanpa menghiraukan kondisi sekitar lagi sehingga setiap pengawas meminta krs untuk du paraf aku selalu terkejut..
dan tibalah seorang pengawas yang masih salah satu dosen di kampus juga datang memberi selembar kertas, aku yang tak membaca isi kertas langsung berkata sehingga membuat dosen muda itu memberhentikan langkahnya, "Pak, saya belum dapet soal satu lagi" dengan ekspresi tanpa salah, "soal yang mana?" saya melihat mimik wajah si dosen muda itu seperti keheranan sekali, "Soal dari ibu ......... pak" bapak itu makin heran, dan saya lebih heran, "itu ditangan kamu kan soalnya", masih belum ada niatan mau lihat beberapa lembar soal yang ditangan, "Ini kan absen pak", bapak itu mulai agak menahan tawa, "kamu lihat dulu deh", dan aku pun melihat kertasnya dan benar itu soal yang aku tanyakan, bukan absen yang aku kira. Sontak aku langsung seakan jatuh kejurang terdalam dan dalam hitungan detik seakan hapalan ku hilang semua, "Maaf ya pak ya, saya pikir ini absen. Maaf ya pak" Semakin kacau, merasa bego banget pada saat itu , bapak itupun melihat saya sebentar dengan wajah yang sangat spesifik seperti orang sedang menahan tawa, "Oh iya, gpp" lalu dilanjutkan lagi langkahnya yang sempat tertunda karena ketidak cermatanku..
Sampai sekarang kalau kebetulan berpapasan sama bapak itu aku menahan tawaku dan berharap bapak itu lupa dengan wajahku dan berharap itulah yang terakhir..

Pesan Moral: baca sebelum biacara

Rabu, 01 Januari 2014

karena senja itu..

Karna senja itu indah.
Warna awannya, mentarinya, sepoi anginya.
Sembari bersyukur bahwa nikmat hidup adalah memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
Masih ada lagi yang diragukan dari semua nikmatNya? tidak.

Senja, kau ibarat mengajarkan tentang kerelaan.
Dimana burung kecil harus rela kehilangan sementara sinar mentari.
Adakah kau berjanji untuk kembali datang?
Oh senja, kau tetap yang kunanti di akhir hari..

Minggu, 29 Desember 2013

Darwis Tere Liye in Medan.

1 Impian yang tercoret

Hari ini ada satu mimpi yang aku coret dari daftar Impian-impian ku. Yaitu "Bertemu Darwis Tere Liye"..
Kenal dia dari salah satu teman facebook 2 tahun yang lalu. Dari situ langsung gabung ke fanspagenya, terus ngebacain posting-postingannya sampailah pada titik dimana merasa benar apa yang dikatakannya. Buku-bukunya juga sangat memotifasi.
Disetiap kali dia memposting tentang Event dia di kota selain Medan itu kok ya rasanya seperti gimana gitu. Kapan lah dia bisa datang di Medan..
2 minggu sebelum acara diadakan aku sudah mengetahui kalau dia bakalan datang ke Medan. Wah, campur aduk perasaan ini. Harus ikut dan ikut pokoknya. Dan tanpa disangka ada acara yang waktunya juga sama dengan jadwal acara dia. Galau, dan akhirnya aku putuskan untuk tidak menghadiri acara seminar dia. Sedih lah jelas pastilah.
Seminggu sudah, kak Nana menawarkan untuk membelikan tiket untuk ku, awalnya aku menolak karna memang ada acara yang belum aku Confirm ketidakhadiranku. Dan ternyata mereka juga memaklumkan, yasudalah akhirnya aku pun disuruh untuk menerima tawaran itu. Dan sampailah tiket itu ditanganku..
Rasa tak sabar untuk menemui penulis Idola itu pun menyerangku, sampai-sampai aku susah untuk tidur di waktu malamnya dan alhasil aku bangun kesiangan..
Atas restu orang tua jugalah aku sampai disana dengan selamat..

Aku yang memang kurang tau tempat-tempat dikota Medan pun harus mengalahkan rasa khawatir yang luar biasa untuk sendiri ke lokasi seminar. Sampai di depan Hotel, aku yang merasa semua tempat masuk itu sama aku dengan santainya masuk ke tempat mobil-mobil pada parkir, aku pencet-pencet aja tu tombol masuk agar portalnya bisa terangkat. Namun tak kunjung juga terangkat. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menunggu satpamnya sajalah. Bersama ciglin aku di depan pos satpam. Tak lama pak satpamnya pun menuju kearah ku, dengan senang hati aku langsung bertanya tentang parkir sepeda motor. Dan ternyata parkir sepeda motor di area belakang..
Wah, kapan ya bisa parkir di depan ;)
Yang dari rumah berdoa agar ditemukan orang yang baik hati yang bisa menjadi teman di acara nanti pun terkabul, bahkan bukan hanya satu teman. Ya, yang awalnya aku tidak mengenal mereka dan dalam waktu yang singkat bisa berubah menjadi seorang yang seolah sudah berteman sangat akrab seakan sudah kenal lama hingga di akhir acara pun kami satu meja menyempatkan untuk foto bersama dan saling berpelukan di akhir dan berjumpa di lain waktu..
Dan mengenai Tere liye, hanya berada beberapa jarak saja. Akhirnya bisa sedekat ini dengan dia, bisa mendengar suaranya. Bahagia pastinya, apalagi bisa bertanya langsung pada dia dan terjadi perbincangan langsung dengan dia secara langsung. Dan bertemu Oki Setiana Dewi yang sama sekali tak pernah aku mimpikan bakal berjumpa dengan dia pun seolah bonus nikmat Allah yang harus aku syukuri. Luar biasa untuk hari ini. Terimakasih untuk Allah yang udah ngasih kesempatan :)

Kamis, 26 Desember 2013

ketika senja

Kita melihat senja yang sama, walau mungkin harum udara yang kita hirup berbau beda.
Sudah sampaikah padamu titipan rinduku?
Terkadang aku suka memeluk bayangmu yang aku tak tau di penghujung malam.
Seolah aku jauh tenggelam kesebuah telaga yang aku sendiri tak tahu kapan aku tergelincir.
Dan ketika purnama tiba, buatlah janji untuk kita melihat purnama yang sama di ruang yang berbeda.
Kau dengan setipis senyum dan aku dengan tawa riang disini.
Rasakan angin yang seakan menerbangkan semua rasa ku jauh ketempat kau berada.
Dan simpulkan betapa banyak garis rindu yang aku punya untuk mu.
Menabung setiap rasa rindu dan akan ku tukarkan dengan senyum untuk kita yang suatu saat pasti akan berjumpa, di Surga..